“Tiada
suatu bencana pun yg menimpa di bumi dan tiada menimpa dirimu kecuali telah
tertulis di dalam kitab sebelum kami menciptakannya. Sesungguhnya yg demikian
itu adl mudah bagi Allah. Supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yg luput
darimu dan supaya kamu tidak merasa bangga dgn apa yg telah diberikan-Nya
kepadamu. Dan Allah tidak menyukai tiap orang yg sombong lagi membanggakan
diri.”
Beriman
kepada qadar baik dan buruk adl salah satu rukun iman yg wajib diyakini oleh
tiap mukmin. Itu merupakan awal dari tawakal kepada
Allah dalam segala usaha yg dilakukannya. Dengan iman pada qadar tiap mukmin
akan optimis dan selalu optimis dalam segala tindak tanduk dan perbuatan
serta usahanya. Karena setelah ia mencurahkan segala kemampuan yg ada padanya
ia akan bertawakkal kepada Allah semata dalam hasil yg akan dicapainya. Allah
Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui. Dia tidak melakukan dan menetapkan sesuatu
pada hamba-Nya kecuali ada hikmahnya. Lagi pula Dialah yg mengetahui apa yg
baik dan buruk bagi hamba-Nya. Dengan modal iman akan qadar baik dan buruk dan
bahwa semua itu telah ditulis di al-Lauh al-Mahfuzh seorang mu’min akan
siap jiwa raga menerima apa pun hasil yg diraih apa pun yg menimpanya. Jika
buruk yg dicapai atau musibah yg menimpa itu tidak akan membuatnya sedih dan
larut dalam kesedihan dan duka lara.
Jika
ia tidak mencapai apa yg diinginkannya walau pun sudah mengerahkan segala daya
upaya ia tidak akan berkecil hati karenanya. Ia tahu bahwa apa yg disukainya
belum tentu baik baginya dan apa yg dibencinya belum tentu buruk baginya.
Sebaliknya jika kesuksesan dan keberhasilan serta untung yg diraihnya ia tidak
serta merta merasa bahwa itu semua merupakan hasil jerih payahnya semata. Ia
sadar bahwa semua itu adl karunia Allah semata. Ia tidak akan menyombongkan
dirinya dgn segala keberhasilan itu. Tentunya dgn menyadari ini semua ia tidak
akan kikir atau pelit dalam berbagi dgn sesama sebagian dari keberhasilan dan
keuntungan yg diraihnya.
Jika
iman akan qadar baik dan buruknya kurang mantap hal itu akan membawa dampak
negatif pada seseorang dalam menyikapi segala yg terjadi dalam kehidupan dunia
ini. Apabila buruk yg diraih dan menimpanya ia akan larut dalam kesedihan dan
kepesimisan. Bahkan akan mudah tumbuh subur di hatinya rasa dengki dan iri
terhadap orang lain yg berhasil. Namun jika keberhasilan dan kesuksesan yg
diraihnya secara perlahan akan tumbuh rasa bangga dan sombong dalam jiwanya krn
merasa bahwa apa yg diraihnya adl hasil usahanya semata. Akibatnya ia akan
membanggakan diri pada orang lain kikir dan pelit utk berbagi kecuali ada
tujuan tertentu. Itulah sifat si Qarun yg dulunya miskin kemudian menjadi kaya
raya setelah Allah mengabulkan doa nabi Musa ‘Alaihissalaam utk si Qarun.
Kekayaannya
melimpah ruah sampai-sampai kunci gudang-gudang penyimpanan hartanya tidak
mampu diangkat oleh beberapa orang yg kuat. Tetapi rupanya dia tidak tahu diri
dan tidak mau bersyukur. Dia malah membanggakan dirinya bahwa apa yg
dimilikinya adl krn kepintarannya. Dia lupa bagaimana dia dulu merengek-rengek
kepada nabi Musa ‘Alaihissalaam agar didoakan supaya Allah memberinya kekayaan.
Dia kikir dan pelit luar biasa krn baginya ia tidak perlu berbagi dgn
orang-orang miskin yg bodoh menurutnya. Akhirnya Allah menenggelamkan si Qarun
dan seluruh harta kekayaannya ke dalam perut bumi tanpa ada yg tersisa. Itulah
salah satu contoh orang congkak akan segala ni’mat yg diraihnya. Ia tidak
menyadari bahwa baik dan buruk merupakan qadar yg sudah Allah tetapkan di al-Lauh
al-Mahfuzh dan bahwa semua itu adl ujian baginya.
Kalaulah
seseorang menyadari hal yg demikian ia akan sadar bahwa ia tidak punya alasan
utk menyombongkan diri atas orang lain apalagi di hadapan Allah Subhaanahu wa
Ta’ala. Wallahu a’lam. Al-Islam - Pusat Informasi
dan Komunikasi Islam Indonesia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar