Sambil mengisap rokok Bang Dower
ngasih komen hasil pertandingan Indonesia Bahrain yang berakhir skor 10
gol untuk bahrain dan Indonesia mendapat telor.
“Memalukan!!! “ Itulah kalimat pertama yang keluar ketika Bang
Camad, Ojekers yang paling setia dibawah pohon Cherry itu datang. “Apanya Boss
yang memalukan”? Si Camad menimpali. “Gue
kagak ngerti tuh Timnas bisa dikasih 10 kosong sama Si Arab, kayak maen
badminton aja.... apa Indonesia udah kagak ada orang lagi yang bisa maen bola”. Si Camad yang baru naruh helm langsung
nyamber.... “Kagak usah dipikirin.. kalau Indonesia menang baru kita bingung...
tapi kalau kalah kita jangan malu, udah biasaaa... orang pengurus PSSI anteng-anteng aja kok, kita yang repot... .”
Sepenggal obrolan tentang
kekalahan Timnas Indonesia atas Bahrain 10 – 0 sungguh memalukan untuk
kehormatan Indonesia. Mestinya memang begitu. Saya yang mendengar obrolan itu
dan sempat nonton siaran Tipi ketika Indonesia sudah kebobolan 4-0, dan
kemudian ganti Channel karena miris, malu, kesel dan dongkol Indonesia jadi Mainan
Bahrain di lapangan. Lantas saya
bertanya dalam hati kenapa yang mesti
malu kok kita yaa... rakyat jelata, para tukang ojek, tukang
becak, dan suporter ABG yang mungkin kata bos-bos kerjanya Cuma bikin rusuh dan jutaan rakyat
lainnya yang onton Tipi. Belum tentu
mereka yang pengurus PSSI atau cerdik pandai, komentator bola dan
pejabat-pejabat pemerintahan yang tiap hari meneriakan kata atas nama rakyat
punya rasa malu atas kekalahan Indonesia itu.
Saya buka berita pagi itu : Kekalahan memalukan diderita tim nasional Indonesia saat
dicukur habis 0-10 oleh Bahrain. Selain karena memang kalah kelas, hasil itu akibat
kesalahan kolektif banyak pihak. "Secara materi pemain Indonesia memang
kalah kelas. Menurunkan pemain muda kurang pengalaman dalam event yang luar
biasa besar adalah keputusan PSSI yang terlalu berani," ungkap Bambang
Nurdiansyah di DetikSport.
Dilanjutkan
eks pelatih timnas U-23 itu, apa yang terjadi dengan timnas kini merupakan
hasil dari kacaunya kondisi persepakbolaan tanah air. Kondisi tersebut tercipta
karena kesalahan kolektif yang dibuat banyak pihak.
"Ini
menjadi momen untuk menyoroti kondisi sepakbola Indonesia sekarang. Ini adalah
kesalahan kolektif yang dibuat oleh banyak pihak,"
"PSSI
egois memutuskan hanya memilih pemain dari satu kompetisi.Akibatnya
pemain-pemain terbaik yang dimiliki oleh Indonesia tidak dapat bergabung
membela timnas."
"Oleh karena itu sekarang ini saya minta agar semua pihak bisa malakukan konsolidasi agar tidak ada lagi perselisihan, tidak ada lagi IPL dan ISL. Semua demi sepakbola nasional," tuntas dia.
"Oleh karena itu sekarang ini saya minta agar semua pihak bisa malakukan konsolidasi agar tidak ada lagi perselisihan, tidak ada lagi IPL dan ISL. Semua demi sepakbola nasional," tuntas dia.
Setelah membaca komentar Bambang,
saya berpikir memang benar kok Indonesia begini yaah, Pengurus PSSI tidak
pernah mau belajar, tidak pernah berpikir untuk kehormatan Indonesia, tetapi
berpikir tentang kepentingan “ Saya, Kami dan Mereka” sehingga membuat kompetisi dan organisasi
pengurus bola yang membingungkan, menyesatkan dan menghancurkan sepak bola
Indonesia.
Coba kita simak sebuah surat terbuka
dari seorang jelata yang mengaku bernama
BABA KHATAMI, yang bisa jadi ia adalah seorang tukang ojek, tukang kuli bangunan, karyawan rendahan, atau
seorang PNS atau karyawan swasta atau siapapun dirinya. Ia adalah satu orang
yang mewakili jeritan hati ketidakberdayaan
dari ribuan, ratusan ribu bahkan jutaan rakyat Indonesia tentang kecintaan terhadap sepakbola dan
kehormatan Indonesia. Coba renungkan wahai penguasa bola Indonesia....
Surat
Untuk Tuan-tuan Pengelola Klub Bola di
tulis oleh Baba Khatami
Tuan-tuan pemilik dan pengelola klub Liga Super Indonesia dan Liga Primer
Indonesia , surat ini kami buat untuk anda anda sekalian karena berhari hari
dalam bulan tahun ini kami melihat kalian berseteru untuk sebuah perhelatan
sepak bola yang hanya menghidupi dan mempertebal kantong-kantong anda semua
,dengan memberi hiburan Olah raga seadanya bagi rakyat Indonesia. Hanya
segelintir pemain yang menikmati manisnya kompetisi namun lebih banyak yang
terombang ambing karena kontrak yang tak pasti.
Kami mencintai sepakbola , permainan yang demikian indahnya , yang tak
mengenal sutradara dan tak mengenal angka pasti. Kami kerap tertawa dan
menangis ketika sebuah permainan berakhir dengan harapan yan g melibatkan emosi,
bukan emosi kedaerahan tetapi emosi kebangsaan .
Ketahuilah wahai Tuan-tuan apa yang kalian perdebatkan dan perebutkan ,
Sebuah kompetisi yang tak bergizi yang dijalani hari demi hari bertahun tahun
dan kami saksikan hanya karena kami terpaksa tak memiliki suguhan lain sepak
bola modern yang indah. Kalian banggakan besarnya penonton yang hadir di
stadion dengan keberhasilan kalian mengelola sebuah kompetisi lalu kalian kemas
menjadi sebuah industry yang mengatasnamakan motor kemajuan sepakbola Republik
Indonesia .
Lihatlah Tuan-tuan, betapa peringkat Indonesia melorot turun tahun demi
tahun dengan kompetisi yang kalian banggakan . Kompetisi yang berkutat hanya
soal pembagian saham dan siapa yang mengelola, kompetisi yang perlahan –lahan
di kooptasi oleh sutradara lapangan dari hotel berbintang. Adakah sumbangan
kompetisi yang kalian lakukan dengan perkembangan karakter bangsa dengan
semangat sportivitas yang harusnya terlahir dari sebuah kompetisi olah raga.
Duhai Tuan –tuan, kalian mengatas namakan keluhuran olahraga sepakbola
sebagai dalih mata pencaharian, kalian mengatasnamakan supporter sepakbola
untuk mempertahankan singgasana eksekutif sebuah perusahaan, kalian mengaduk
aduk emosi kedaerahan untuk meruntuhkan semangat kesatuan Negara .
Sadarkah Tuan-tuan, kompetisi kalian itu adalah kompetisi kampungan, yang
tak memiliki keindahan layaknya sepakbola, yang tak memberikan angka tambah
bagi peringkat Republik Indonesia, yang bertahun tahun menjadi ajang
pengumpulan citra seseorang atau sekumpulan untuk meraih posisi pribadi dalam
sebuah Negara, dan yang menghabiskan pajak pajak kuli bangunan dan pekerja lain
yang tersalur dalam APBD .
Kami ini ingin melihat suguhan sepakbola, yang dimainkan diatas lapangan
hijau . Bukan permainan sepakbola yang disuguhkan di pojok pojok ruang konvensi.
kami ingin lahir seorang Lionel Messi Indonesia bukan seorang eksekutif komite
atau ketua umum federasi yang banyak bicara, kami ingin tontonan yang tayang
langsung di televisi karena kualitas sepakbola bukan karena kontrak sebuah
industri periklanan.
Berhentilah berbicara, dan berkompetisilah dengan tekad memajukan sepak
bola Indonesia , bukan memajukan citra kalian itu siapa. kembalikan bola kepada
kaki kaki irfan bachdim, Okto maniana dan Firman Utina, jangan kalian peram
bola itu hingga tak bulat lagi.
Biarlah kami tonton kompetisi ini karena mereka, bukan karena campur tangan
dan promosi pengelola kampungan seperti Tuan-tuan sekalian.
Berikan Bola pada mereka!! Segera, demi Indonesia .
Dengan kondisi seperti ini wahai
Pengurus PSSI, istighfarlah.... kasihan kami2 ini, jutaan jelata rakyat
Indonesia berharap sepakbola Indonesia “KemBali ke jaLan YanG LuRus” demi kehormatan sebuah
bangsa dan negara yang disebut
“INDONESIA”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar