Jumat, 02 Maret 2012

INDONESIA 0 – BAHRAIN 10, “MEMALUKAN”


Sambil mengisap rokok  Bang Dower  ngasih komen hasil pertandingan Indonesia Bahrain yang berakhir skor 10 gol untuk bahrain dan Indonesia mendapat telor.  “Memalukan!!! “   Itulah kalimat pertama yang keluar ketika Bang Camad, Ojekers yang paling setia dibawah pohon Cherry itu datang. “Apanya Boss yang memalukan”? Si Camad menimpali.  “Gue kagak ngerti tuh Timnas bisa dikasih 10 kosong sama Si Arab, kayak maen badminton aja.... apa Indonesia udah kagak ada orang lagi yang bisa maen bola”.  Si Camad yang baru naruh helm langsung nyamber.... “Kagak usah dipikirin.. kalau Indonesia menang baru kita bingung... tapi kalau kalah kita jangan malu, udah biasaaa... orang pengurus PSSI  anteng-anteng aja kok, kita yang repot... .”



Sepenggal obrolan tentang kekalahan Timnas Indonesia atas Bahrain 10 – 0 sungguh memalukan untuk kehormatan Indonesia. Mestinya memang begitu. Saya yang mendengar obrolan itu dan sempat nonton siaran Tipi ketika Indonesia sudah kebobolan 4-0, dan kemudian ganti Channel karena miris,  malu,   kesel dan dongkol Indonesia jadi Mainan Bahrain di lapangan.  Lantas saya bertanya dalam hati  kenapa yang mesti malu kok  kita yaa...  rakyat jelata, para tukang ojek, tukang becak,  dan suporter  ABG yang mungkin kata bos-bos  kerjanya Cuma bikin rusuh dan jutaan rakyat lainnya yang onton Tipi.  Belum tentu mereka yang pengurus PSSI atau cerdik pandai, komentator bola dan pejabat-pejabat pemerintahan yang tiap hari meneriakan kata atas nama rakyat punya rasa malu atas kekalahan Indonesia itu.  

Saya buka berita pagi itu :    Kekalahan memalukan diderita tim nasional Indonesia saat dicukur habis 0-10 oleh Bahrain. Selain karena memang kalah kelas, hasil itu akibat kesalahan kolektif banyak pihak. "Secara materi pemain Indonesia memang kalah kelas. Menurunkan pemain muda kurang pengalaman dalam event yang luar biasa besar adalah keputusan PSSI yang terlalu berani," ungkap Bambang Nurdiansyah  di DetikSport.

Dilanjutkan eks pelatih timnas U-23 itu, apa yang terjadi dengan timnas kini merupakan hasil dari kacaunya kondisi persepakbolaan tanah air. Kondisi tersebut tercipta karena kesalahan kolektif yang dibuat banyak pihak.

"Ini menjadi momen untuk menyoroti kondisi sepakbola Indonesia sekarang. Ini adalah kesalahan kolektif yang dibuat oleh banyak pihak,"

"PSSI egois memutuskan hanya memilih pemain dari satu kompetisi.Akibatnya pemain-pemain terbaik yang dimiliki oleh Indonesia tidak dapat bergabung membela timnas."

"Oleh karena itu sekarang ini saya minta agar semua pihak bisa malakukan konsolidasi agar tidak ada lagi perselisihan, tidak ada lagi IPL dan ISL. Semua demi sepakbola nasional," tuntas dia.

Setelah membaca komentar Bambang, saya berpikir memang benar kok Indonesia begini yaah, Pengurus PSSI tidak pernah mau belajar, tidak pernah berpikir untuk kehormatan Indonesia, tetapi berpikir tentang kepentingan “ Saya, Kami dan Mereka”  sehingga membuat kompetisi dan organisasi pengurus bola yang membingungkan, menyesatkan dan menghancurkan sepak bola Indonesia. 

Coba kita simak sebuah surat terbuka dari seorang jelata yang mengaku  bernama BABA KHATAMI, yang bisa jadi ia adalah seorang tukang ojek,  tukang kuli bangunan, karyawan rendahan, atau seorang PNS atau karyawan swasta atau siapapun dirinya. Ia adalah satu orang yang mewakili jeritan hati ketidakberdayaan  dari ribuan, ratusan ribu bahkan jutaan rakyat Indonesia  tentang kecintaan terhadap sepakbola dan kehormatan Indonesia. Coba renungkan wahai penguasa bola Indonesia....


Tuan-tuan pemilik dan pengelola klub Liga Super Indonesia dan Liga Primer Indonesia , surat ini kami buat untuk anda anda sekalian karena berhari hari dalam bulan tahun ini kami melihat kalian berseteru untuk sebuah perhelatan sepak bola yang hanya menghidupi dan mempertebal kantong-kantong anda semua ,dengan memberi hiburan Olah raga seadanya bagi rakyat Indonesia. Hanya segelintir pemain yang menikmati manisnya kompetisi namun lebih banyak yang terombang ambing karena kontrak yang tak pasti.

Kami mencintai sepakbola , permainan yang demikian indahnya , yang tak mengenal sutradara dan tak mengenal angka pasti. Kami kerap tertawa dan menangis ketika sebuah permainan berakhir dengan harapan yan g melibatkan emosi, bukan emosi kedaerahan tetapi emosi kebangsaan .

Ketahuilah wahai Tuan-tuan apa yang kalian perdebatkan dan perebutkan , Sebuah kompetisi yang tak bergizi yang dijalani hari demi hari bertahun tahun dan kami saksikan hanya karena kami terpaksa tak memiliki suguhan lain sepak bola modern yang indah. Kalian banggakan besarnya penonton yang hadir di stadion dengan keberhasilan kalian mengelola sebuah kompetisi lalu kalian kemas menjadi sebuah industry yang mengatasnamakan motor kemajuan sepakbola Republik Indonesia .

Lihatlah Tuan-tuan, betapa peringkat Indonesia melorot turun tahun demi tahun dengan kompetisi yang kalian banggakan . Kompetisi yang berkutat hanya soal pembagian saham dan siapa yang mengelola, kompetisi yang perlahan –lahan di kooptasi oleh sutradara lapangan dari hotel berbintang. Adakah sumbangan kompetisi yang kalian lakukan dengan perkembangan karakter bangsa dengan semangat sportivitas yang harusnya terlahir dari sebuah kompetisi olah raga.

Duhai Tuan –tuan, kalian mengatas namakan keluhuran olahraga sepakbola sebagai dalih mata pencaharian, kalian mengatasnamakan supporter sepakbola untuk mempertahankan singgasana eksekutif sebuah perusahaan, kalian mengaduk aduk emosi kedaerahan untuk meruntuhkan semangat kesatuan Negara .

Sadarkah Tuan-tuan, kompetisi kalian itu adalah kompetisi kampungan, yang tak memiliki keindahan layaknya sepakbola, yang tak memberikan angka tambah bagi peringkat Republik Indonesia, yang bertahun tahun menjadi ajang pengumpulan citra seseorang atau sekumpulan untuk meraih posisi pribadi dalam sebuah Negara, dan yang menghabiskan pajak pajak kuli bangunan dan pekerja lain yang tersalur dalam APBD .

Kami ini ingin melihat suguhan sepakbola, yang dimainkan diatas lapangan hijau . Bukan permainan sepakbola yang disuguhkan di pojok pojok ruang konvensi. kami ingin lahir seorang Lionel Messi Indonesia bukan seorang eksekutif komite atau ketua umum federasi yang banyak bicara, kami ingin tontonan yang tayang langsung di televisi karena kualitas sepakbola bukan karena kontrak sebuah industri periklanan.

Berhentilah berbicara, dan berkompetisilah dengan tekad memajukan sepak bola Indonesia , bukan memajukan citra kalian itu siapa. kembalikan bola kepada kaki kaki irfan bachdim, Okto maniana dan Firman Utina, jangan kalian peram bola itu hingga tak bulat lagi.

Biarlah kami tonton kompetisi ini karena mereka, bukan karena campur tangan dan promosi pengelola kampungan seperti Tuan-tuan sekalian.

Berikan Bola pada mereka!! Segera, demi Indonesia .

Dengan kondisi seperti ini wahai Pengurus PSSI, istighfarlah.... kasihan kami2 ini, jutaan jelata rakyat Indonesia  berharap sepakbola Indonesia “KemBali  ke jaLan YanG LuRus” demi kehormatan sebuah bangsa  dan negara yang  disebut “INDONESIA”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar